Dari Abu Darda, ia berkata telah bersabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, dan Allah jadikan untuk tiap-tiap penyakit itu obatnya. Oleh karena itu, hendaklah kamu berobat, tetapi jangan berobat dengan yang haram.” (H.R. Abu Daud)
Dari hadist diatas menandakan bahwa setiap penyakit ada obatnya, begitu juga dengan orang yang mengalami gay, yang bagi rein merupakan ‘penyakit’ pasti ada cara untuk menyembuhkannya. Gay yang dialami seseorang dibagi menjadi 2, yaitu AFEKSI DAN PERILAKU. Afeksi berkaitan dengan perasaan atau emosi yang berkaitan dengan hal-hal mengenai dunia gay sedangkan perilaku berkaitan dengan aktivitas fisik yang mengarah pada dunia gay. untuk penyembuhannya, yang rein tau kalau temen-temen merasakan gay yang berkaitan dengan afeksi, maka gunakanlah teori Cognitive Behaviour Therapy. Namun jika temen-temen mengalami gay yang berkaitan dengan perilaku maka gunakanlah teori Cognitive Behaviout Therapy dan Behaviout Therapi. Rein hanya tau teori saja. Oia, buat temen-temen yang merasa diri lesbi, gay, biseks, dan transgender yang mau sembuh, gabung yuk di grup RENAISANS LGBT dengan alamat email Havday_Sockher_Amoeneupus@yahoo.co.id dengan gambar grup ‘wanita dan pria sedang berpelukan’. . .
Terlepas dari teori yang ada. Rein mau share mengenai langkah-langkah bagaimana caranya kita bisa kembali menjadi normal, namun tetap manusia hanya bisa berusaha. Hasilnya kita serahkan kembali kepada Allah SWT. Dalam melaksanakan langkah-langkah di bawah ini, harus dilakukan secara sungguh-sungguh, dan jika kita melanggar maka anggap aja kita belum melakukan langkah-langkah itu. Hal ini karena semua butuh proses, tidak instan begitu saja. Jadi komitmen dari temen-temen pun sangat diperlukan. Jika kita tidak sungguh-sungguh, rein jamin semua usaha kita akan sia-sia (soalnya rein udah pernah merasakannya). Berikut ini langkah-langkah yang sekarang sedang rein lakukan juga, yaitu:
1.Niatkan mau sembuh karena Allah
Setiap muslim rein rasa sudah tau bahwa setiap kita melakukan aktivitas kita selalu mengharapkan ridho Allah. Maka, untuk memulai cara ini, alangkah baiknya kalau kita niatkan semata-mata karena Allah Ta’ala.
2.Jauhkan kita dari hal-hal yang berkaitan dengan gay
Rein sekarang menyadari kenapa rein setiap mau berusaha untuk sembuh pasti gagal, hal ini dikarenakan barang-barang yang berkaitan dengan gay berada dekat dengan kehidupan rein. Hal ini mengakibatkan rein sering menggunakan barang itu kembali. Sebut saja VCD/DVD gay, foto gay, serta barang-barang lainnya yang berhubungan dengan gay. untuk VCD/DVD yang berkaitan dengan hetero (pemerannya pria dan wanita pun) rein rasa harus dibuang, karena rein tidak menampik kalo yang dilihat di video itu pun pasti pemeran pria nya. Jadi buat temen2 yang mau sungguh2, barang2 tersebut mungkin bisa kita jauhkan dari kehidupan kita. Terus juga, bagi temen2 yang sedang suka ke seseorang, sebaiknya berusaha seminimal mungkin untuk bertemu dengannya. Seminimal mungkin untuk sms an dengannya. Inti nya menjauhi diri dulu dari temen yang kalian suka itu. Bukannya mau memutuskan hubungan untuk silaturahmi, tetapi untuk sementara mungkin ini cara itu yang terbaik bagi kita.
3.Doktrin Pada Diri Sendiri Bahwa Gay Bisa Disembuhkan
Rein pernah membaca bahwa penyebab seseorang menjadi gay dikarenakan faktor genetik dan faktor lingkungan. Dalam bacaan tersebut, faktor gay yang disebabkan oleh genetik tidak dapat disembuhkan dan faktor gay yang disebabkan oleh lingkungan bisa disembuhkan. Namun, dikatakan bahwa di dunia ini yang MEMEGANG PERANAN TERBESAR DALAM PEMBENTUKAN SESEORANG MENJADI GAY YAITU LINGKUNGAN. Memang ada faktor genetik, namun JUMLAHNYA YANG SANGAT SEDIKIT SEKALI.
Awalnya rein mengira bahwa rein dilahirkan sebagai seorang gay karena faktor genetik. Hal ini membuat rein pasrah dan tidak berusaha sedikitpun untuk mencari cara agar rein bisa sembuh. Kini, rein memaksakan diri untuk memikirkan bahwa rein bisa sembuh, dan alhamdulillah rein sekarang optimis bahwa rein bisa sembuh. Rein menyesal, kenapa dulu rein pernah menilai bahwa diri rein gay karena genetik. Padahal rein tidak pernah diperiksa, apalagi tes kedokteran untuk mengetahui penyebab gay yang terjadi pada rein. Adanya informasi mengenai gay bisa disembuhkan memberikan harapan pada diri rein sekaligus semangat untuk berusaha mencari cara yang tepat bagaimana agar rein bisa kembali normal.
4.Pola Berfikir
Berfikir adalah proses umum untuk mempertimbangkan berbagai isu di dalam pikiran manusia. Misalnya saja seperti contoh pada point ke 3. Kalau kita berfikir gay tidak bisa disembuhkan, kita akan pasrah dan menerima gay yang kita alami ini lalu melakukan hal-hal yang berhubungan dengan gay, sedangkan kalau kita berfikir gay itu bisa disembuhkan maka kita akan berusaha untuk mencari cara yang tepat, lalu kita juga tidak akan mendekati aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan gay. Proses berfikir meliputi.
a.Berfikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi di dalam mental atau pikiran seseorang, tidak tampak, tetapi dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang tampak. Contohnya, seorang pemain catur memperlihatkan proses berfikirnya melalui langkah-langkah yang dilakukan di atas papan catur. Berkaitan dengan hal ini, rein rasa orang-orang yang melakukan perilaku gay memperlihatkan bahwa pikiran mereka masih mengarah pada kehidupan gay, seperti apakah bercumbu dengan pria gagah itu asik, ciuman dengan pria feminim itu indah dan sebagainya. cara berfikir kita itu akan menjadi suatu keputusan yang akan membuat perilaku kita seperti apa yang dipikirkan oleh kita. Oleh karena itu, rein berpendapat bahwa sebaiknya kita jauhi pikiran2 seperti itu. Justru yang harus kita lakukan adalah memeranginya.
b.Aktivitas berfikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah.
Sebagaimana pemain catur, setiap langkah yang dilakukannya diarahkan untuk memenangkan suatu permainan. Meski tidak semua langkah yang dilakukannya itu berhasil, namun secara umum di dalam pikirannya semua langkah diarahkan pada suatu pemecahan. Jika pikiran mengenai gay datang kembali, coba temen2 usahakan untuk berpikir kita harus mencintai perempuan. Sebisa mungkin aktivitas berfikir ini dikaitkan dengan bagaimana kita mencari pemecahan masalahnya, bukannya malah ‘memanjakan pikiran’ ini agar keinginan gay itu terpenuhi kembali. Memang hal ini sangat sulit dilakukan, rein merasakannya juga. Namun tetapkanlah niat pada diri masing2 bahwa kita mau sembuh.
5.Self Management
Dari yang rein baca, ada program yang disebut self-management. Dalam program self-management, orang membuat keputusan yang fokus pada tingkah laku spesifik yang ingin mereka kontrol atau mereka ubah. Beberapa contoh umum misalnya mengontrol tingkah laku merokok, minum-minuman, atau obat-obatan. Program self-management ini diuraikan oleh Watson dan Tharp sebagai berikut:
a.Tujuan terpilih.
Tahap awal dimulai dengan men-spesifikasi perubahan yang diinginkan. Tujuan sebaiknya ditentukan pada satu waktu dan sebaiknya mereka terukur, dapat dicapai, positif, dan signifikan bagi orang tersebut. Penting pula bahwa harapan haruslah realistis. Contohnya, rein langsung jujur saja ke temen2. Sekarang rein sedang kecanduan *nani. Seminggu bisa mencapai lebih dari 20 kali. Jadi, tujuan rein adalah mengurangi frekuensi *nani.
b.Menerjemahkan tujuan menjadi tingkah laku target.
Selanjutnya, tujuan terpilih diterjemahkan menjadi tingkah laku target. Kunci pertanyaannya yakni, “Tingkah laku spesifik apa yang ingin saya tingkatkan atau turunkan?” Dalam point ini, rein ingin mencoba mengurangi frekuensi *nani dengan menargetkan 5 kali rein boleh *nani dalam seminggu selama 1 bulan. Jadi maksimal harus 20 kali dalam 1 bulan. Namun tiap minggu maks hanya 5 kali.
c.Self-monitoring.
Klien dengan sengaja dan sistematis mengobservasi tingkah laku mereka sendiri. Salah satu metode yang paling mudah untuk mengobservasi tingkah laku yakni melalui behavioral diary (buku curhat). Kejadian dari tingkah laku tertentu direkam oleh klien bersamaan dengan komentar mengenai relevansi tanda yang awal dan konsekuensi. Selama jangka waktu 1 bulan, sebaiknya kita observasi perilaku kita. misalnya, tiba2 rein tidak kuat untuk menahan *nani. Nah, apa sih yang menyebabkan rein tidak tahan. Dan jika rein kuat menahan *nani, itu juga karena hal apa. Sungguh data2 mengenai hal itu sangat dibutuhkan untuk di kemudian hari.
d.Mengembangkan perencanaan perubahan.
Tahap ini dimulai dengan perbandingan antara
informasi yang diperoleh dari self-monitoring dan standar klien untuk tingkah laku yang spesifik. Setelah klien membuat evaluasi terhadap perubahan tingkah laku yang ingin mereka ubah, mereka merencanakan suatu program tindakan untuk membawa perubahan aktual yang termasuk metode seperti punishment, stimulus kontrol, behavioral contract, dan dukungan sosial. Beberapa jenis sistem self-reinforcement merupakan kebutuhan dalam perencanaan ini karena reinforcement merupakan landasan terapi tingkah laku yang modern. Self-reinforcement merupakan strategi sementara yang klien gunakan sampai mereka dengan sukses mengimplementasikan tingkah laku baru dalam kehidupan sehari-harinya. Penting bahwa klien mengambil langkah untuk memastikan bahwa mereka mempertahankan perolehan yang mereka buat. Contohnya, dalam point 2 disebutkan rein maksimal *nani harus 20 kali dalam 1 bulan. Namun tiap minggu maks hanya 5 kali. Jika rein melakukan *nani melebihi 5 kali dalam seminggu, berilah ‘hukuman’ bagi diri sendiri, contohnya rein suka bermain futsal, karena rein melanggar target. Maka rein dihukum tidak boleh bermain futsal dalam minggu tersebut. Namun jika rein berhasil kurang dari target melakukan *nani, berilah imbalan untuk diri sendiri. Misalkan rein suka sekali makan ayam panggang. Laksanakan penghargaan itu untuk diri sendiri. (namun disesuaikan dengan kondisi kita, yang rein tulis hanya contoh saja).
e.Mengevaluasi rencana tindakan.
Untuk menentukan derajat yang klien capai pada tujuan mereka, penting pula untuk mengevaluasi perencanaaan untuk berubah. Perencanaannya secara terus-menerus diatur dan direvisi karena klien belajar cara lain untuk menemukan tujuan mereka. Evaluasi adalah suatu proses yang tanpa henti lebih dari satu kali kejadian dan self-change merupakan latihan seumur hidup. Misalnya saja, jika point di atas berhasil, lalu rubahlah targetnya misalkan dalam seminggu rein tidak boleh *nani. Terus caranya seperti diatas sampai rein benar-benar terbebas dari *nani ini.
6.Sugesti
Dalam menjalankan point no 5, pasti sangat susah sekali. Cobalah temen2 men sugestikan diri sendiri misalnya, rein ingin membuat mamah bahagia dan rein harus berusaha untuk sembuh, gay itu dilarang keras, *nani itu menjijikkan dan sebagainya.
7.Mengalihkan perilaku gay jika keinginan itu datang kembali
Menurut hukum penyimpanan tenaga (conservation of energy) maka energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi tidak dapat dihilangkan. Berdasarkan pemikiran itu Sigmund Freud berpendapat bahwa energi psikis pun dapat dipindahkan ke energi fisiologis begitu juga sebaliknya dari energy fisiologis ke energy psikis. Misalnya saja energi itu berupa keinginan akan hal2 yang berkaitan dengan seks. Energi ini bisa dirubah dalam bentuk kita berolahraga, atau aktivitas lainnya yang mampu mengurangi energi ini seperti puasa senin dan kamis.
8.Cobalah mencari pendamping hidup
Jujur rein tidak berani untuk menyatakan cinta pada wanita, hal itu karena rein menganggap bahwa diri rein adalah gay. rein takut ditolak, rein takut ce na langsung tidak mau menyatakan suka pada rein juga. Dari point ini, bagi temen2 cobalah untuk melakukan segala sesuatu yang paling kalian takuti untuk dilakukan, misalnya ya yang berkaitan dengan masalah rein tersebut, yaitu mengambil resiko ditolak oleh wanita dalam kehidupan kita.
9.Self Efficacy
Self efficacy adalah keyakinan seseorang akan kemampuan atau kompetensinya atas kinerja tugas yang ada, mencapai tujuan, atau mengatasi sebuah hambatan. Contoh self efficacy yang tinggi, yaitu rein tidak akan mundur jika ada orang yang bilang bahwa gay itu akan terjadi seumur hidup, ada yang bilang usaha kita akan sia-sia. Rein harus yakin bahwa gay bisa dirubah. Dan rein pun harus yakin bahwa rein akan berubah sebagaimana waktu telah mengubah usia rein yang sekarang menjadi 21 tahun. Namun jika kita mempunyai self efficacy yang rendah, maka adanya ‘gosip2’ di atas akan membuat tujuan kita terhambat dan kita tidak akan memperjuangkan diri kita untuk bisa kembali hidup normal.
10.Pasrah dalam doa
Menurut rein, hal-hal yang sudah disebutkan tadi lah yang dapat kita lakukan. Kita ada di dunia ini karena ada yang menciptakan. kita hidup di dunia ini karena ada yang menghidupkan. Kita bakal mati pun karena ada yang mematikan. Lantas, kenapa tidak berpasrah diri dan memohon bahwa kita adalah hamba yang tidak memiliki apa-apa selain harapan. Kepada Allah saja kita bisa kembali. Cucurkan air mata temen-temen jika menurut kita itu dapat membuat hati kita tenang. Lalu rein juga mengamalkan salah satu surat dalam Al-Quran, yaitu surat Taha 1-5 yang dilakukan tiap malam dan siang. Arti dari surat tersebut yaitu:
"Tha ha (ALLAH yang mengetahui maksudnya). Tiada Kami (ALLAH) turunkan kepadamu al-Quran ini supaya engkau celaka (menyusahkan engkau)! Melainkan untuk menjadi peringatan bagi orang yang takut. (Al-Quran) yang diturunkan daripada TUHAN, yang menciptakan bumi dan beberapa langit yang tinggi. TUHAN YG MAHA PENGASIH, di atas singgahsana DIA bersemayam (berkuasa). DIA mempunyai apa yang ada di langit, dan di bumi, serta di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah.
Hanya Allah lah yang mengetahui maksudnya mengapa kita sekarang mengalami gay. tapi rein merasa, kita yang sedang di uji ini menandakan bahwa Allah itu sangat sayang kepada kita, sehingga untuk bisa keluar dari cobaan ini, kita selalu mengingat akan kebesaran Allah. Terus juga yakinkan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya. Terakhir, rein punya kisah (namun bukan karangan rein). Kisah tersebut adalah sebagai berikut :
Raja dan Laba-laba
Dahulu kala di negeri Skonlandia, ada seorang raja bernama Bruce. Dia sudah enam kali memimpin pasukannya menuju medan perang melawan sang agresor dari England, namun selama enam kali pertempuran itu, pasukannya selalu babak belur dihajar oleh musuh, hingga terpaksa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke hutan. Akhirnya, dia sendiri juga bersembunyi di sebuah gubuk kosong di dalam hutan belantara.
Suatu hari, hujan turun dengan derasnya, air hujan menerobos dari atap rumah yang bocor mengenai muka Bruce, sehingga dia terbangun dari tidurnya. Sesaat dia merenungi nasibnya yang malang karena tidak dapat mengalahkan musuh, walaupun dia telah mengerahkan segala daya upaya. Semakin dia memikirkan hal ini, hatinya semakin pedih dan hampir putus asa. Pada saat itu, mata Bruce menatap ke atas balok kayu yang melintang diatas kepalanya, disana ada seekor laba-laba sedang merajut sarangnya.
Dia dengan seksama memperhatikan gerak gerik laba-laba tersebut, dihitungnya usaha si laba-laba yang telah enam kali berturut-turut berusaha sekuat tenaga mencoba mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu yang berada di seberangnya, namun akhirnya gagal juga. “Sungguh kasihan makhluk kecil ini.” kata Bruce, “Seharusnya kau menyerah saja!” Namun, sungguh diluar dugaan Bruce, walaupun telah enam kali si laba-laba gagal mengaitkan ujung benangnya, dia tidak lantas putus asa dan berhenti berusaha, dia coba lagi untuk yang ke tujuh kalinya, dan kali ini dia berhasil. Melihat ini semua, Bruce sungguh merasa kagum dan lupa pada nasib yang menimpa dirinya.
Bruce akhirnya berdiri dan menghela napas panjang, lalu dengan lantang dia berteriak: “Aku juga akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!” Bruce akhirnya benar-benar mendapatkan semangatnya kembali, ia segera mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya, lalu mengatur strategi dan menggempur lagi pertahanan musuh, dengan susah payah dan perjuangan yang tak kenal menyerah, akhirnya Bruce berhasil mengusir pasukan musuh dan merebut kembali tanah airnya.
Note : Dalam kehidupan, manusia terkadang mudah mengeluh dan menyerah dengan situasi. Tapi dengan dorongan akan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita, semangat kita akan bangkit kembali dan meraih kemenangan.
Mungkin cerita diatas ini yang rein bisa share kan, rein juga tidak tahu kapan Allah akan mengubah nasib rein. Tapi rein sangat percaya, bahwa dibalik apa yang rein alami ini. Rein akan mempunyai jalan hidup yang sungguh menakjubkan (semoga, amien).
Jangan lupa add grup RENAISANS LGBT dengan alamat email Havday_Sockher_Amoeneupus@yahoo.co.id dengan gambar grup ‘wanita dan pria sedang berpelukan’ yah . . . terima kasih dan salam kenal..
Planetarius
Sabtu, 09 April 2011
Kamis, 07 April 2011
Perkembangan Psikologi Berdasarkan Waktu
b.Zaman Dark Age atau Abad Pertengahan
Pendekatan natural science dari Aristoteles lalu disebarkan oleh muridnya bernama Alexander the Great melalui ekspansi militer sampai ke daerah Timur. Bersamaan dengan itu mulai masuk pandangan belahan dunia timur ke barat, terutama Persia, India, dan Mesir. Dengan runtuhnya kekuasaan Alexander the Great, maka pengaruh timur semakin kuat ditandai dengan menguatnya pandangan spiritualitas yang menggantikan naturalisme
1)Masa Romawi
Konteks sosial pada masa Romawi pada saat itu antara lain: pemerintahan kekaisaran romawi yang mendunia dengan tertib administrasi, kependudukan yang kuat, serta jaminan akan ketentraman sosial. Pemikiran tentang manusia dan alam menjadi lebih pragmatis, spesifik, dan spesialis. Bangsa Romawi lebih tertarik pada ilmu pengetahuan yang bersifat teknikal dan aplikatif, yang seluruhnya diarahkan untuk memperkuat dominasi kekaisaran Romawi.
Pengaruh bagi perkembangan pemikiran tentang manusia terhadap psikologi, antara lain filsafat yang berkembang memiliki konteks lebih terbatas dan spesifik, serta tampak dalam bentuk yang nyata, misalnya ritual religi masyarakat Romawi. Fokus yang dibicarakan mengenai dikotomi aktif-pasif, yaitu apakah jiwa adalah unsur yang aktif dan mandiri terhadap lingkungan ataukah unsur yang pasif dan hanya bisa memberi reaksi. Manusia dipandang sebagai makhluk yang kehidupannya didorong usaha untuk mencari cara menguasai keinginan fisik melalui penolakan dunia materiil dan mencari kebenaran dalam alam dan Tuhan (Neoplatonism). Pemikiran pada masa Romawi memberi jalan bagi berkembangnya kekristenan.
2)Pengaruh Kekristenan
Pada masa pengaruh kekristenan, konteks sosialnya meliputi penyebaran agama Kristen dengan tokoh Yesus sebagai perwujudan manusia yang sempurna. Peran gereja sangat dominan dalam perkembangan intelektual di masyarakat, dimana banyak cendekiawan berlatar belakang ulama. Gereja penentu nilai di masyarakat dan berhak melakukan sensor atas ide yang muncul. Peran gereja menjadi kurang memuaskan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncul universitas di Eropa yang menawarkan kebebasan berpikir luas. Terjadi selisih antara gereja dengan masyarakat.
Pengaruh pandangan di atas mengenai manusia terhadap psikologi antara lain: Manusia bukan hanya terdiri dari fisik saja, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual tidak diatur oleh hukum alam. Jiwa manusia (soul) ada pada dunia yang tidak nyata (intangible), tidak dapat dibuktikan dengan mata, dan eksistensinya hanya bisa dibuktikan melalui percaya atau iman. Masa ini menempatkan ide Plato dalam konteks kekristenan. Menjelaskan hubungan antara body and soul sebagai suatu dualisme, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi body dan soul masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
3)Tokoh-tokoh
a)St. Agustinus (354 – 430)
St. Augustine of Hippo memperkenalkan beberapa konsep dalam psikologi. Manusia pada dasarnya bersumber pada alam. Dalam diri manusia sudah ada dua dorongan yang diberikan oleh alam, yaitu dorongan baik dan dorongan jahat. Dorongan baik harus dirangsang agar tumbuh terus untuk mencapai suatu kesempurnaan kepribadian, tetapi dorongan jahat harus ditekan atau dilawan semaksimal mungkin. Manusia harus dibersihkan dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Untuk itu maka perasaan takut harus ditimbulkan dalam diri manusia agar manusia itu tidak melakukan perbuatan dosa. Augustine mengatakan bahwa cara untuk menumbuhkan rasa takut dalam diri manusia itu bermacam-macam. Cara ini tidak akan sama antara satu individu dengan individu lainnya.
Hal ini karena pada hakikatnya tidak ada dua orang yang persis sama. Dengan pendapatnya ini, maka Augustine tergolong orang yang pertama-tama mengamati adanya perbedaan individual (individual difference). Metode yang dipakai untuk mengetahui dosa-dosa dalam diri seseorang adalah orang yang bersangkutan harus menjelajahi alam kesadarannya sendiri. Alam kesadaran (consciousness) bagi Augustine adalah suatu kenyataan yang tidak bisa terbantah kebenarannya. Caranya manusia yang bersangkutan mengeksplorasi kesadarannya sendiri adalah dengan menggunakan metode introspeksi. Dengan menyuruh kliennya mengintrospeksi diri sendiri, Augustine melihat bahwa dalam jiwa terdapat bagian-bagian atau fakultas-fakultas (faculties). Fakultas-fakultas tersebut terdiri dari ingatan, imajinasi, indera, kemauan, akal, dan sebagainya. Dengan teorinya ini, maka St. Augustine sering pula disebut sebagai Bapak Psikologi Fakultas (faculty psychology).
b)Thomas Aquinas
St. Thomas Aquinas adalah seorang filsuf abad pertengahan yang menyatakan bahwa manusia memiliki martabat yang lebih tinggi daripada mahluk hidup lainnya. Hal itu dikarenakan manusia memiliki pikiran yang dimilikinya dalam kesatuan dengan badan. Mentransformasikan pandangan Aristoteles ke dalam konsep-konsep kekristenan, apa yang dikenal reason oleh Aristoteles, lalu diterjemahkan sebagai roh oleh Aquinas. Maka soul adalah sesuatu yang vital bagi manusia dan tujuan utamanya adalah untuk memahami dunia, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh fisik manusia semata. Thomas tidak dapat membenarkan pendapat kebanyakan orang pada waktu itu mengenai jiwa dan roh yang bersatu. Menurutnya banyak istilah dalam berbagai bahasa yang sekaligus mempunyai konotasi kedua arti, misalnya psyche (Yunani), I’ame (Prancis), dan geist (Jerman). Adanya percampuran dua pengertian tersebut, maka sering terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Menurut Aquinas pertentangan itu tidak perlu terjadi, karena ilmu pengetahuan dan agama mempelajari 2 hal yang berbeda.
Pemikiran Thomas Aquinas selalu mengarah bahwa pemikiran filosofis ditetapkan oleh evidensi. Inilah sebabnya pemikiran Thomas tidak selalu bersifat kompilatif dan eklektisisme tapi mengarah pada otonomi pemikiran. Thomas dalam epistemologinya menyebutkan bahwa semua pengertian manusia selalu melalui pencerapan. Ini berarti pada suatu saat pemikiran Thomas juga bersifat mengandalkan kenyataan inderawi. Landasan pemikiran Thomas selalu mengandaikan pengamatan inderawi yang bersifat pasti dan sederhana. Pengamatan dan analisa fakta-fakta adalah dasar kuat bagi sintesa Thomas Aquinas. Ilmu pengetahuan berusaha mencari kebenaran melalui pengamatan-pengamatan empiris terhadap alam, karena itu yang menjadi obyek ilmu pengetahuan adalah jiwa. Sedangkan roh adalah objek dari agama yang mencari kebenaran di hari kemudian. Tingkah laku manusia menurut Aquinas selalu mengandung pilihan dan manusia selalu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ia tidak percaya pada pendapat yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang terjadi sebelumnya atau pengalaman masa lalu dari manusia, melainkan ia percaya bahwa manusia melakukan sesuatu atas dasar pilihan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan. Dalam perbuatan memilih ini, maka akal-lah yang memegang peranan terpenting. Hal tersebut membuat Aquinas dikatakan sebagai seorang yang anti-determinisme dan pro–rasionalisme. Aquinas bahkan sering disebut sebagai Bapak Psikologi Rasional.
Pendekatan natural science dari Aristoteles lalu disebarkan oleh muridnya bernama Alexander the Great melalui ekspansi militer sampai ke daerah Timur. Bersamaan dengan itu mulai masuk pandangan belahan dunia timur ke barat, terutama Persia, India, dan Mesir. Dengan runtuhnya kekuasaan Alexander the Great, maka pengaruh timur semakin kuat ditandai dengan menguatnya pandangan spiritualitas yang menggantikan naturalisme
1)Masa Romawi
Konteks sosial pada masa Romawi pada saat itu antara lain: pemerintahan kekaisaran romawi yang mendunia dengan tertib administrasi, kependudukan yang kuat, serta jaminan akan ketentraman sosial. Pemikiran tentang manusia dan alam menjadi lebih pragmatis, spesifik, dan spesialis. Bangsa Romawi lebih tertarik pada ilmu pengetahuan yang bersifat teknikal dan aplikatif, yang seluruhnya diarahkan untuk memperkuat dominasi kekaisaran Romawi.
Pengaruh bagi perkembangan pemikiran tentang manusia terhadap psikologi, antara lain filsafat yang berkembang memiliki konteks lebih terbatas dan spesifik, serta tampak dalam bentuk yang nyata, misalnya ritual religi masyarakat Romawi. Fokus yang dibicarakan mengenai dikotomi aktif-pasif, yaitu apakah jiwa adalah unsur yang aktif dan mandiri terhadap lingkungan ataukah unsur yang pasif dan hanya bisa memberi reaksi. Manusia dipandang sebagai makhluk yang kehidupannya didorong usaha untuk mencari cara menguasai keinginan fisik melalui penolakan dunia materiil dan mencari kebenaran dalam alam dan Tuhan (Neoplatonism). Pemikiran pada masa Romawi memberi jalan bagi berkembangnya kekristenan.
2)Pengaruh Kekristenan
Pada masa pengaruh kekristenan, konteks sosialnya meliputi penyebaran agama Kristen dengan tokoh Yesus sebagai perwujudan manusia yang sempurna. Peran gereja sangat dominan dalam perkembangan intelektual di masyarakat, dimana banyak cendekiawan berlatar belakang ulama. Gereja penentu nilai di masyarakat dan berhak melakukan sensor atas ide yang muncul. Peran gereja menjadi kurang memuaskan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncul universitas di Eropa yang menawarkan kebebasan berpikir luas. Terjadi selisih antara gereja dengan masyarakat.
Pengaruh pandangan di atas mengenai manusia terhadap psikologi antara lain: Manusia bukan hanya terdiri dari fisik saja, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual tidak diatur oleh hukum alam. Jiwa manusia (soul) ada pada dunia yang tidak nyata (intangible), tidak dapat dibuktikan dengan mata, dan eksistensinya hanya bisa dibuktikan melalui percaya atau iman. Masa ini menempatkan ide Plato dalam konteks kekristenan. Menjelaskan hubungan antara body and soul sebagai suatu dualisme, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi body dan soul masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
3)Tokoh-tokoh
a)St. Agustinus (354 – 430)
St. Augustine of Hippo memperkenalkan beberapa konsep dalam psikologi. Manusia pada dasarnya bersumber pada alam. Dalam diri manusia sudah ada dua dorongan yang diberikan oleh alam, yaitu dorongan baik dan dorongan jahat. Dorongan baik harus dirangsang agar tumbuh terus untuk mencapai suatu kesempurnaan kepribadian, tetapi dorongan jahat harus ditekan atau dilawan semaksimal mungkin. Manusia harus dibersihkan dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Untuk itu maka perasaan takut harus ditimbulkan dalam diri manusia agar manusia itu tidak melakukan perbuatan dosa. Augustine mengatakan bahwa cara untuk menumbuhkan rasa takut dalam diri manusia itu bermacam-macam. Cara ini tidak akan sama antara satu individu dengan individu lainnya.
Hal ini karena pada hakikatnya tidak ada dua orang yang persis sama. Dengan pendapatnya ini, maka Augustine tergolong orang yang pertama-tama mengamati adanya perbedaan individual (individual difference). Metode yang dipakai untuk mengetahui dosa-dosa dalam diri seseorang adalah orang yang bersangkutan harus menjelajahi alam kesadarannya sendiri. Alam kesadaran (consciousness) bagi Augustine adalah suatu kenyataan yang tidak bisa terbantah kebenarannya. Caranya manusia yang bersangkutan mengeksplorasi kesadarannya sendiri adalah dengan menggunakan metode introspeksi. Dengan menyuruh kliennya mengintrospeksi diri sendiri, Augustine melihat bahwa dalam jiwa terdapat bagian-bagian atau fakultas-fakultas (faculties). Fakultas-fakultas tersebut terdiri dari ingatan, imajinasi, indera, kemauan, akal, dan sebagainya. Dengan teorinya ini, maka St. Augustine sering pula disebut sebagai Bapak Psikologi Fakultas (faculty psychology).
b)Thomas Aquinas
St. Thomas Aquinas adalah seorang filsuf abad pertengahan yang menyatakan bahwa manusia memiliki martabat yang lebih tinggi daripada mahluk hidup lainnya. Hal itu dikarenakan manusia memiliki pikiran yang dimilikinya dalam kesatuan dengan badan. Mentransformasikan pandangan Aristoteles ke dalam konsep-konsep kekristenan, apa yang dikenal reason oleh Aristoteles, lalu diterjemahkan sebagai roh oleh Aquinas. Maka soul adalah sesuatu yang vital bagi manusia dan tujuan utamanya adalah untuk memahami dunia, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh fisik manusia semata. Thomas tidak dapat membenarkan pendapat kebanyakan orang pada waktu itu mengenai jiwa dan roh yang bersatu. Menurutnya banyak istilah dalam berbagai bahasa yang sekaligus mempunyai konotasi kedua arti, misalnya psyche (Yunani), I’ame (Prancis), dan geist (Jerman). Adanya percampuran dua pengertian tersebut, maka sering terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Menurut Aquinas pertentangan itu tidak perlu terjadi, karena ilmu pengetahuan dan agama mempelajari 2 hal yang berbeda.
Pemikiran Thomas Aquinas selalu mengarah bahwa pemikiran filosofis ditetapkan oleh evidensi. Inilah sebabnya pemikiran Thomas tidak selalu bersifat kompilatif dan eklektisisme tapi mengarah pada otonomi pemikiran. Thomas dalam epistemologinya menyebutkan bahwa semua pengertian manusia selalu melalui pencerapan. Ini berarti pada suatu saat pemikiran Thomas juga bersifat mengandalkan kenyataan inderawi. Landasan pemikiran Thomas selalu mengandaikan pengamatan inderawi yang bersifat pasti dan sederhana. Pengamatan dan analisa fakta-fakta adalah dasar kuat bagi sintesa Thomas Aquinas. Ilmu pengetahuan berusaha mencari kebenaran melalui pengamatan-pengamatan empiris terhadap alam, karena itu yang menjadi obyek ilmu pengetahuan adalah jiwa. Sedangkan roh adalah objek dari agama yang mencari kebenaran di hari kemudian. Tingkah laku manusia menurut Aquinas selalu mengandung pilihan dan manusia selalu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ia tidak percaya pada pendapat yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang terjadi sebelumnya atau pengalaman masa lalu dari manusia, melainkan ia percaya bahwa manusia melakukan sesuatu atas dasar pilihan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan. Dalam perbuatan memilih ini, maka akal-lah yang memegang peranan terpenting. Hal tersebut membuat Aquinas dikatakan sebagai seorang yang anti-determinisme dan pro–rasionalisme. Aquinas bahkan sering disebut sebagai Bapak Psikologi Rasional.
Perkembangan Psikologi Berdasarkan Waktu
1.Psikologi sebagai bagian Ilmu Filsafat
a.Zaman Yunani
Psikologi sebagai bagian dari ilmu filsafat pada zaman Yunani Kuno ini dibagi menjadi dua masa, yaitu masa Hellenic Periode dan masa Yunani Kuno.
Pada masa Hellenic Periode, pendekatan dan orientasi filsafat masa Yunani ini terarah pada eksplorasi alam, pengamatan empiris yang ditandai dengan kemajuan bidang astronomi dan matematika, berimbas dengan meletakkan dasar ciri natural science pada psikologi, yaitu objektif, eksperimentasi, dan observasi kegiatan nyata untuk organisme hidup. Pertanyaan utama yang selalu berulang:
Mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan?
Mengapa kita memiliki suasana hati?
Mengapa kita tampaknya tahu apa yang kita ketahui?
Mengupayakan untuk menemukan penyebabnya.
Masa Yunani Kuno adalah masa transisi dari pola pikir animisme ke awal masa natural science. Pada masa ini penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Pada masa Yunani Kuno ini, ada lima orientasi untuk mengetahui apa itu jiwa. 5 orientasi yaitu: Naturalistic, Biological, Mathematical, Eclectic, dan Humanistic.
1)Naturalistic
Adanya elemen-elemen dasar sebagai penentu dari kehidupan. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Tokohnya yaitu:
a)Thales yang menjelaskan segala sesuatu berasal dari air
b)Anaximander berkata segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu
c)Anaximenes menjelaskan segala sesuatu berasal dari udara.
2)Biologic
Memisahkan proses-proses yang terjadi pada manusia dengan proses-proses yang
terjadi pada mahluk lain di alam. Tokohnya adalah Hippocrates, Alcmeon, Empedocles.
3)Mathematical
Pendekatan yang lebih jauh dari dasar dunia fisik yang mengarahkan pada hal-hal yang logis tapi masih bersifat abstrak. Hal itu merupakan bekal bagi kekuatan reason.
4)Eclectic (berwawasan luas)
Menentang ide adanya suatu prinsip dasar dan kebenaran umum. Menekankan pada informasi sensoris, operasional, dan praktis. Sikap ilmuwan harus skeptic. Tokohnya yaitu the sophists, yaitu yang merupakan golongan orang yang pandai dalam berpidato.
5)Humanistic
Fokus utama dari pandangan ini yaitu rasionalitas dan intensionalitas. Ratio adalah penentu kehidupan manusia dan segala ko’nsekuensinya. Tokoh utamanya yaitu Socrates sedangkan tokoh penerusnya yaitu Plato dan Aristoteles.
Adanya orientasi untuk mengetahui tentang jiwa pada zaman Yunani Kuno ini lalu akan dijelaskan lebih lengkap lagi yaitu sebagai berikut ini.
1)Pandangan Monoisme
Sebelum tahun 1879, ilmu psikologi masih dianggap sebagai bagian dari filsafat. Pada mulanya ahli-ahli filsafat dari zaman Yunani Kuno-lah yang mulai memikirkan gejala-gejala kejiwaan. Saat itu belum ada pembuktian secara empiris atau ilmiah. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Mitologi adalah kumpulan legenda Yunani Kuno tentang dewa-dewi Yunani Kuno serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan. Cara pendekatan seperti itu disebut sebagai cara pendekatan yang naturalistik. Di antara sarjana masa Yunani yang menggunakan pendekatan naturalistik adalah Thales (624-548 SM) yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat. Ia meyakini bahwa jiwa dan hal-hal supernatural lainnya tidak ada karena sesuatu yang ada harus dapat diterangkan dengan gejala alam (natural phenomenon). Thales pun percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari air. Menurut Thales jiwa tidak mungkin dari air, oleh karena itu maka jiwa pun dianggapnya tidak ada.
Tokoh lainnya adalah Anaximander (611-546 SM) yang mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu, sementara Anaximenes (abad 6 SM) mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari udara. Tokoh penting lainnya pada masa Yunani Kuno ini adalah Empedocles, Hippocrates, dan Democritus.
Empedocles (490-430 SM) mengatakan bahwa ada empat elemen besar yang berada dalam alam semesta. Ke empat elemen besar tersebut yaitu bumi atau tanah, udara, api, dan air. Manusia terdiri dari tulang, otot, dan usus yang merupakan unsur dari tanah, cairan tubuh merupakan unsur dari air, fungsi rasio dan mental yang merupakan unsur dari api, sedangkan pendukung dari elemen-elemen atau fungsi-fungsi dari hidup adalah udara.Berdasarkan pada pandangan Empedochles, lalu Hipocrates (460-375 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat empat cairan tubuh yang memiliki kesesuaian sifat dengan ke empat elemen-elemen dasar tersebut. Berdasarkan komposisi cairan dalam tubuh manusia, maka Hipocrates membagi manusia dalam empat golongan yang berbeda, yaitu:
1.Sanguine adalah tipe orang yang terlalu banyak darah dalam tubuhnya. Sanguine bersifat panas dan mempunyai temperamen penggembira.
2.Melancholic adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu hitam dalam tubuhnya. Melancholic bersifat basah dan mempunyai temperamen pemurung.
3.Choleric adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu kuning dalam tubuhnya. Choleric bersifat kering dan mempunyai temperamen semangat.
4.Plegmatic adalah tipe orang yang terlalu banyak lendir dalam tubuhnya. Phlegmatic bersifat dingin dan mempunyai temperamen lamban.
Democritus (460-370 SM) berpendapat bahwa seluruh realitas yang ada di dunia ini terdiri dari partikel-partikel yang tidak dapat dibagi lagi yang oleh Einstein kemudian diberi nama atom. Cara berfikir Democritus mengikuti prinsip mekanistis. Beratus tahun sesudah Democritus wafat, prinsip tersebut masih diikuti oleh beberapa sarjana, antara lain I.P. Pavlov dan J.B. Watson yang sama-sama berpendapat bahwa atom dari jiwa adalah refleks-refleks.
Tokoh-tokoh Yunani kuno tersebut pada dasarnya menganggap bahwa jiwa adalah satu dengan badan. Jiwa dan badan merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan, berasal dari unsur yang sama dan tunduk pada hukum yang sama pula (pandangan monoisme)
2)Pandangan Dualisme
Selain pandangan monoisme, tumbuh pula pandangan-pandangan lain yang disebut dengan dualisme. Dualisme yaitu pandangan yang memisahkan jiwa dari badan, jiwa tidak sama dengan badan, dan masing-masing tunduk pada peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang terpisah. Tokoh-tokoh terkenal yang menganut pandangan dualisme antara lain: Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM).
Socrates (469-399 SM) berpandangan bahwa pada setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Masalah yang muncul adalah kebanyakan dari setiap manusia tidak menyadarinya. Oleh karena itu, perlu ada orang lain semacam bidan yang membantu melahirkan sang ‘ide’ dari dalam kalbu manusia. Socrates mengembangkan suatu metode tanya jawab untuk menggali jawaban-jawaban yang terpendam mengenai berbagai persoalan. Dengan metode tanya jawab yang disebut dengan Socratic Method itu akan timbul pengertian yang disebut Maieutics yaitu menarik keluar seperti yang dilakukan oleh profesi bidan. Maieutics ini kemudian dikembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1943 menjadi suatu teknik dalam psikoterapi yang biasa disebut Non Directive Techniques, yaitu suatu teknik yang digunakan oleh profesi psikolog atau psikoterapis untuk menggali persoalan-persoalan dalam diri klien sehingga ia menyadari sendiri persoalan-persoalannya tanpa terlalu diarahkan oleh psikolog atau psikoterapisnya. Socrates menekankan pada pentingnya pengertian tentang diri sendiri bagi setiap manusia sehingga menurutnya adalah suatu kewajiban bagi setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal di luar dirinya. Semboyan dari Socrates yang terkenal adalah belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia itu sendiri.
Plato (427-347 SM) adalah murid dan pengikut setia dari Socrates dan dianggap sebagai penganut dualisme yang sebenar-benarnya. Plato mengatakan bahwa dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Pada orang dewasa dan intelektual, mereka dapat membedakan antara mana jiwa dan mana badan. Tetapi pada anak-anak, jiwa masih bercampur dengan badan, belum bisa memisahkan ide dari benda-benda yang kongkrit. Jiwa yang berisi ide-ide ini diberi nama Psyche. Plato meyakini bahwa setiap orang telah ditetapkan status dan kedudukannya di dalam masyarakat sejak orang lahir, yaitu apakah ia seorang filsuf, prajurit, atau pekerja.
Plato percaya bahwa tiap orang dilahirkan dengan kekhasan tersendiri. Jadi tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan demikian, selain dianggap sebagai penganut dalam paham Determinisme atau Nativisme, ia pun dianggap sebagai tokoh pemula dari paham individual differences. Dalam perkembangan ilmu psikologi selanjutnya, paham individual differences ini akan membawa para sarjana ke arah penemuan alat-alat pemeriksaan psikologi atau psikotes. Plato juga dianggap sebagai seorang yang rasionalis dan percaya bahwa segala sesuatu berasal dari ide-ide yang dihasilkan oleh rasio.
Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati sesuatu wujud tertentu (matter). Wujud ini pada hakikatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Tuhanlah satu-satunya yang tanpa wujud dan hanya berupa form saja. Aristoteles sering disebut sebagai Bapak Psikologi Empiris karena menurutnya segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu wujud tertentu. Wujud tertentu-lah sebagai sumber utama dari suatu pengetahuan. Pandangan dan teori-teori dari Aristoteles tentang psikologi dapat dilihat dalam bukunya yang terkenal yang berjudul De Anima, yang sesungguhnya merupakan buku tentang ilmu hewan komparatif dan Biologi. Dalam buku itu, Aristoteles mengatakan bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai dorongan untuk tumbuh dan menjadi sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah terkandung dalam benda itu sendiri. Ia membedakan antara hule dan morphe. Hule (Noes Photeticos) adalah yang terbentuk sedangkan Morphe (Noes Poeticos) adalah yang membentuk.
Benda dalam alam tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi menjadi atau diperkembangkan menjadi sesuatu. Sebelum benda itu terwujud, benda itu berupa suatu kemungkinan. Aristoteles membedakan tiga macam form, yaitu Plant, Animal, dan Rasional. Fungsi dari setiap form, yaitu Plant yang mengontrol fungsi-fungsi vegetative, Animal dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti: mengingat, mengharap, dan persepsi sedangkan Rasional memungkinkan manusia malakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsep-konsep.
Khusus pada diri manusia, dorongan untuk tumbuh ini berbentuk dorongan untuk merealisasikan diri (self realization) yang disebut entelechi. Menurut Aristoteles fungsi dari jiwa dibagi dua, yaitu kemampuan untuk mengenal dan kemampuan untuk berkehendak. Pandangan ini dikenal sebagai dichotomi. Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa manusia terdiri dari dua bagian, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Berabad-abad setelah zaman Yunani Kuno, Psikologi masih merupakan bagian dari ilmu Filsafat.
a.Zaman Yunani
Psikologi sebagai bagian dari ilmu filsafat pada zaman Yunani Kuno ini dibagi menjadi dua masa, yaitu masa Hellenic Periode dan masa Yunani Kuno.
Pada masa Hellenic Periode, pendekatan dan orientasi filsafat masa Yunani ini terarah pada eksplorasi alam, pengamatan empiris yang ditandai dengan kemajuan bidang astronomi dan matematika, berimbas dengan meletakkan dasar ciri natural science pada psikologi, yaitu objektif, eksperimentasi, dan observasi kegiatan nyata untuk organisme hidup. Pertanyaan utama yang selalu berulang:
Mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan?
Mengapa kita memiliki suasana hati?
Mengapa kita tampaknya tahu apa yang kita ketahui?
Mengupayakan untuk menemukan penyebabnya.
Masa Yunani Kuno adalah masa transisi dari pola pikir animisme ke awal masa natural science. Pada masa ini penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Pada masa Yunani Kuno ini, ada lima orientasi untuk mengetahui apa itu jiwa. 5 orientasi yaitu: Naturalistic, Biological, Mathematical, Eclectic, dan Humanistic.
1)Naturalistic
Adanya elemen-elemen dasar sebagai penentu dari kehidupan. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Tokohnya yaitu:
a)Thales yang menjelaskan segala sesuatu berasal dari air
b)Anaximander berkata segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu
c)Anaximenes menjelaskan segala sesuatu berasal dari udara.
2)Biologic
Memisahkan proses-proses yang terjadi pada manusia dengan proses-proses yang
terjadi pada mahluk lain di alam. Tokohnya adalah Hippocrates, Alcmeon, Empedocles.
3)Mathematical
Pendekatan yang lebih jauh dari dasar dunia fisik yang mengarahkan pada hal-hal yang logis tapi masih bersifat abstrak. Hal itu merupakan bekal bagi kekuatan reason.
4)Eclectic (berwawasan luas)
Menentang ide adanya suatu prinsip dasar dan kebenaran umum. Menekankan pada informasi sensoris, operasional, dan praktis. Sikap ilmuwan harus skeptic. Tokohnya yaitu the sophists, yaitu yang merupakan golongan orang yang pandai dalam berpidato.
5)Humanistic
Fokus utama dari pandangan ini yaitu rasionalitas dan intensionalitas. Ratio adalah penentu kehidupan manusia dan segala ko’nsekuensinya. Tokoh utamanya yaitu Socrates sedangkan tokoh penerusnya yaitu Plato dan Aristoteles.
Adanya orientasi untuk mengetahui tentang jiwa pada zaman Yunani Kuno ini lalu akan dijelaskan lebih lengkap lagi yaitu sebagai berikut ini.
1)Pandangan Monoisme
Sebelum tahun 1879, ilmu psikologi masih dianggap sebagai bagian dari filsafat. Pada mulanya ahli-ahli filsafat dari zaman Yunani Kuno-lah yang mulai memikirkan gejala-gejala kejiwaan. Saat itu belum ada pembuktian secara empiris atau ilmiah. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Mitologi adalah kumpulan legenda Yunani Kuno tentang dewa-dewi Yunani Kuno serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan. Cara pendekatan seperti itu disebut sebagai cara pendekatan yang naturalistik. Di antara sarjana masa Yunani yang menggunakan pendekatan naturalistik adalah Thales (624-548 SM) yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat. Ia meyakini bahwa jiwa dan hal-hal supernatural lainnya tidak ada karena sesuatu yang ada harus dapat diterangkan dengan gejala alam (natural phenomenon). Thales pun percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari air. Menurut Thales jiwa tidak mungkin dari air, oleh karena itu maka jiwa pun dianggapnya tidak ada.
Tokoh lainnya adalah Anaximander (611-546 SM) yang mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu, sementara Anaximenes (abad 6 SM) mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari udara. Tokoh penting lainnya pada masa Yunani Kuno ini adalah Empedocles, Hippocrates, dan Democritus.
Empedocles (490-430 SM) mengatakan bahwa ada empat elemen besar yang berada dalam alam semesta. Ke empat elemen besar tersebut yaitu bumi atau tanah, udara, api, dan air. Manusia terdiri dari tulang, otot, dan usus yang merupakan unsur dari tanah, cairan tubuh merupakan unsur dari air, fungsi rasio dan mental yang merupakan unsur dari api, sedangkan pendukung dari elemen-elemen atau fungsi-fungsi dari hidup adalah udara.Berdasarkan pada pandangan Empedochles, lalu Hipocrates (460-375 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat empat cairan tubuh yang memiliki kesesuaian sifat dengan ke empat elemen-elemen dasar tersebut. Berdasarkan komposisi cairan dalam tubuh manusia, maka Hipocrates membagi manusia dalam empat golongan yang berbeda, yaitu:
1.Sanguine adalah tipe orang yang terlalu banyak darah dalam tubuhnya. Sanguine bersifat panas dan mempunyai temperamen penggembira.
2.Melancholic adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu hitam dalam tubuhnya. Melancholic bersifat basah dan mempunyai temperamen pemurung.
3.Choleric adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu kuning dalam tubuhnya. Choleric bersifat kering dan mempunyai temperamen semangat.
4.Plegmatic adalah tipe orang yang terlalu banyak lendir dalam tubuhnya. Phlegmatic bersifat dingin dan mempunyai temperamen lamban.
Democritus (460-370 SM) berpendapat bahwa seluruh realitas yang ada di dunia ini terdiri dari partikel-partikel yang tidak dapat dibagi lagi yang oleh Einstein kemudian diberi nama atom. Cara berfikir Democritus mengikuti prinsip mekanistis. Beratus tahun sesudah Democritus wafat, prinsip tersebut masih diikuti oleh beberapa sarjana, antara lain I.P. Pavlov dan J.B. Watson yang sama-sama berpendapat bahwa atom dari jiwa adalah refleks-refleks.
Tokoh-tokoh Yunani kuno tersebut pada dasarnya menganggap bahwa jiwa adalah satu dengan badan. Jiwa dan badan merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan, berasal dari unsur yang sama dan tunduk pada hukum yang sama pula (pandangan monoisme)
2)Pandangan Dualisme
Selain pandangan monoisme, tumbuh pula pandangan-pandangan lain yang disebut dengan dualisme. Dualisme yaitu pandangan yang memisahkan jiwa dari badan, jiwa tidak sama dengan badan, dan masing-masing tunduk pada peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang terpisah. Tokoh-tokoh terkenal yang menganut pandangan dualisme antara lain: Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM).
Socrates (469-399 SM) berpandangan bahwa pada setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Masalah yang muncul adalah kebanyakan dari setiap manusia tidak menyadarinya. Oleh karena itu, perlu ada orang lain semacam bidan yang membantu melahirkan sang ‘ide’ dari dalam kalbu manusia. Socrates mengembangkan suatu metode tanya jawab untuk menggali jawaban-jawaban yang terpendam mengenai berbagai persoalan. Dengan metode tanya jawab yang disebut dengan Socratic Method itu akan timbul pengertian yang disebut Maieutics yaitu menarik keluar seperti yang dilakukan oleh profesi bidan. Maieutics ini kemudian dikembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1943 menjadi suatu teknik dalam psikoterapi yang biasa disebut Non Directive Techniques, yaitu suatu teknik yang digunakan oleh profesi psikolog atau psikoterapis untuk menggali persoalan-persoalan dalam diri klien sehingga ia menyadari sendiri persoalan-persoalannya tanpa terlalu diarahkan oleh psikolog atau psikoterapisnya. Socrates menekankan pada pentingnya pengertian tentang diri sendiri bagi setiap manusia sehingga menurutnya adalah suatu kewajiban bagi setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal di luar dirinya. Semboyan dari Socrates yang terkenal adalah belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia itu sendiri.
Plato (427-347 SM) adalah murid dan pengikut setia dari Socrates dan dianggap sebagai penganut dualisme yang sebenar-benarnya. Plato mengatakan bahwa dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Pada orang dewasa dan intelektual, mereka dapat membedakan antara mana jiwa dan mana badan. Tetapi pada anak-anak, jiwa masih bercampur dengan badan, belum bisa memisahkan ide dari benda-benda yang kongkrit. Jiwa yang berisi ide-ide ini diberi nama Psyche. Plato meyakini bahwa setiap orang telah ditetapkan status dan kedudukannya di dalam masyarakat sejak orang lahir, yaitu apakah ia seorang filsuf, prajurit, atau pekerja.
Plato percaya bahwa tiap orang dilahirkan dengan kekhasan tersendiri. Jadi tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan demikian, selain dianggap sebagai penganut dalam paham Determinisme atau Nativisme, ia pun dianggap sebagai tokoh pemula dari paham individual differences. Dalam perkembangan ilmu psikologi selanjutnya, paham individual differences ini akan membawa para sarjana ke arah penemuan alat-alat pemeriksaan psikologi atau psikotes. Plato juga dianggap sebagai seorang yang rasionalis dan percaya bahwa segala sesuatu berasal dari ide-ide yang dihasilkan oleh rasio.
Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati sesuatu wujud tertentu (matter). Wujud ini pada hakikatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Tuhanlah satu-satunya yang tanpa wujud dan hanya berupa form saja. Aristoteles sering disebut sebagai Bapak Psikologi Empiris karena menurutnya segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu wujud tertentu. Wujud tertentu-lah sebagai sumber utama dari suatu pengetahuan. Pandangan dan teori-teori dari Aristoteles tentang psikologi dapat dilihat dalam bukunya yang terkenal yang berjudul De Anima, yang sesungguhnya merupakan buku tentang ilmu hewan komparatif dan Biologi. Dalam buku itu, Aristoteles mengatakan bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai dorongan untuk tumbuh dan menjadi sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah terkandung dalam benda itu sendiri. Ia membedakan antara hule dan morphe. Hule (Noes Photeticos) adalah yang terbentuk sedangkan Morphe (Noes Poeticos) adalah yang membentuk.
Benda dalam alam tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi menjadi atau diperkembangkan menjadi sesuatu. Sebelum benda itu terwujud, benda itu berupa suatu kemungkinan. Aristoteles membedakan tiga macam form, yaitu Plant, Animal, dan Rasional. Fungsi dari setiap form, yaitu Plant yang mengontrol fungsi-fungsi vegetative, Animal dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti: mengingat, mengharap, dan persepsi sedangkan Rasional memungkinkan manusia malakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsep-konsep.
Khusus pada diri manusia, dorongan untuk tumbuh ini berbentuk dorongan untuk merealisasikan diri (self realization) yang disebut entelechi. Menurut Aristoteles fungsi dari jiwa dibagi dua, yaitu kemampuan untuk mengenal dan kemampuan untuk berkehendak. Pandangan ini dikenal sebagai dichotomi. Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa manusia terdiri dari dua bagian, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Berabad-abad setelah zaman Yunani Kuno, Psikologi masih merupakan bagian dari ilmu Filsafat.
Kamis, 31 Maret 2011
Sejarah Ilmu Psikologi
B. Sejarah Ilmu Psikologi
Sejarah ilmu psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual yang terjadi di Eropa dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Amerika. Berdasarkan hal itu, bagian sejarah psikologi dibagi dalam beberapa periode beserta tokoh-tokohnya, yaitu:
________________________________________ ________________________________________
Sejarah ilmu psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal selama ini sebagian besar berpusat dari perkembangan awal sejarah Eropa yang terjadi dari masa Yunani Kuno dan masa Romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.
Pendekatan dan orientasi ilmu dalam dunia psikologi berawal dari tradisi filsafat pada masa Yunani Kuno, yaitu masa transisi dari pola pikir animisime ke natural science, yaitu pengetahuan yang bersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Sepanjang masa kekaisaran Romawi, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya atau alam ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan yang terjadi diantara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri.
Masa Renaisans adalah peralihan masa dimana pengetahuan yang bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang. Munculnya berbagai diskusi tentang pengetahuan yang menyebabkan perkembangan ilmu-ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Hal ini berdampak pada kajian ilmu psikologi sehingga ilmu psikologi ingin menjadi kajian yang ilmiah dan empiris.
Pasca Renaisans, psikologi menjadi bagian dari ilmu faal yang muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimana pada fase ini mulai terdapat jawaban yang empiris dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap sekali muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)? Bagaimana bentuk konkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan antara body dan soul? Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, yang meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris dari soul (jiwa) yang juga sebelumnya jiwa tersebut dianggap sangat abstrak.
Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, maka konteks intelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima ilmu psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal sekaligus terlepas dari ilmu induknya, yaitu filsafat dan kedokteran.
Tanah kelahiran ilmu psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yang memiliki misi membentuk manusia yang berkualitas dan penyedia tenaga kerja yang profesional. Wilhelm Wundt adalah orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan Wundt seorang doktor yang tertarik dalam bidang fisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masuk dalam ranah empiris dan ilmiah serta bisa berdiri sebagai ilmu yang mandiri.
Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembang dengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut ini adalah perkembangan kajian ilmu psikologi, yaitu
1. Jerman
a. Psikologi Strukturalisme atau psikologi Eksperimen yang menekankan elemen mental, yaitu bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
b. Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan perlakuan demikian, maka makna dari jiwa itu sendiri akan berubah sebab bentuk kesatuannya juga akan hilang. Psikologi Gestalt menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun masih tetap empiris
c. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti Gestalt dan Strukturalisme, Psikoanalisa berkembang bukan dari riset akademisi, tetapi berdasarkan pengalaman praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.
2. Amerika
a. Psikologi Fungsionalisme menekanan pada fungsi mental tetapi bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis) saja
b. Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
c. Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia. Psikologi Humanistik disebut juga sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.
Sejarah ilmu psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual yang terjadi di Eropa dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Amerika. Berdasarkan hal itu, bagian sejarah psikologi dibagi dalam beberapa periode beserta tokoh-tokohnya, yaitu:
________________________________________ ________________________________________
Sejarah ilmu psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal selama ini sebagian besar berpusat dari perkembangan awal sejarah Eropa yang terjadi dari masa Yunani Kuno dan masa Romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.
Pendekatan dan orientasi ilmu dalam dunia psikologi berawal dari tradisi filsafat pada masa Yunani Kuno, yaitu masa transisi dari pola pikir animisime ke natural science, yaitu pengetahuan yang bersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Sepanjang masa kekaisaran Romawi, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya atau alam ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan yang terjadi diantara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri.
Masa Renaisans adalah peralihan masa dimana pengetahuan yang bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang. Munculnya berbagai diskusi tentang pengetahuan yang menyebabkan perkembangan ilmu-ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Hal ini berdampak pada kajian ilmu psikologi sehingga ilmu psikologi ingin menjadi kajian yang ilmiah dan empiris.
Pasca Renaisans, psikologi menjadi bagian dari ilmu faal yang muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimana pada fase ini mulai terdapat jawaban yang empiris dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap sekali muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)? Bagaimana bentuk konkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan antara body dan soul? Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, yang meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris dari soul (jiwa) yang juga sebelumnya jiwa tersebut dianggap sangat abstrak.
Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, maka konteks intelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima ilmu psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal sekaligus terlepas dari ilmu induknya, yaitu filsafat dan kedokteran.
Tanah kelahiran ilmu psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yang memiliki misi membentuk manusia yang berkualitas dan penyedia tenaga kerja yang profesional. Wilhelm Wundt adalah orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan Wundt seorang doktor yang tertarik dalam bidang fisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masuk dalam ranah empiris dan ilmiah serta bisa berdiri sebagai ilmu yang mandiri.
Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembang dengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut ini adalah perkembangan kajian ilmu psikologi, yaitu
1. Jerman
a. Psikologi Strukturalisme atau psikologi Eksperimen yang menekankan elemen mental, yaitu bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
b. Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan perlakuan demikian, maka makna dari jiwa itu sendiri akan berubah sebab bentuk kesatuannya juga akan hilang. Psikologi Gestalt menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun masih tetap empiris
c. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti Gestalt dan Strukturalisme, Psikoanalisa berkembang bukan dari riset akademisi, tetapi berdasarkan pengalaman praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.
2. Amerika
a. Psikologi Fungsionalisme menekanan pada fungsi mental tetapi bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis) saja
b. Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
c. Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia. Psikologi Humanistik disebut juga sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.
Pengertian Psikologi
A. Pengertian Psikologi
Secara etimologis kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu psyche yang artinya sukma, jiwa, roh, dan logos yang artinya ilmu atau studi. Ilmu psikologi secara harfiah didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniyah yang keberadaannya tergantung pada hidup jasmaniah dan menimbulkan perbuatan badaniah (organik behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian ( personality ) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai baru, dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses dalam menghadapi kontradiksi-kontradiksi dalam hidup. Misalnya, insting, refleks, nafsu, dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.
Sedangkan jiwa adalah daya hidup rohaniyah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi semua perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.
Menurut Aristoteles, jiwa disebut anima yang terbagi dalam tiga macam jenis, yaitu :
1.anima vegetativa, yaitu anima yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk makan, minum, dan berkembang biak.
2.anima sensitiva, yaitu anima yang terdapat dalam hewan. Anima ini memiliki kemampuan seperti anima vegetativa juga kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, mengingat dan merasakan.
3.anima intelektiva, anima yang terdapat dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan seperti anima sensitiva juga mempunyai kemampuan berpikir dan berkemauan untuk melakukan sesuatu yang dipikirkan tersebut.
Setelah Psikologi berkembang luas dan dituntut mempunyai ciri-ciri sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, maka “jiwa” dipandang terlalu abstrak. Ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dicatat, dan diukur. Hal ini mengakibatkan perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat, dan diukur. Dengan demikian, psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut, yakni berupa tingkah laku dan proses-prosesnya. Perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebabnya tidak dapat diamati langsung.
2.Perilaku mengenal berbagai tingkatan. Ada perilaku yang sederhana seperti perilaku binatang satu sel, dan ada perilaku yang kompleks seperti perilaku sosial manusia.
3.Perilaku bervariasi menurut jenis-jenis tertentu yang bisa diklasifikasikan. Klasifikasi yang umum dikenal adalah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4.Perilaku bisa disadari dan tidak disadari. Walaupun sebagian besar perilaku sehari-hari kita sadari, tetapi terkadang kita hanya menyadari mengapa kita berprilaku seperti itu.
Jadi, ilmu psikologi didefinisikan sebagai studi tentang orang, studi tentang pikiran atau akal, dan studi tentang proses mental, motivasi, dan perilaku p
Secara etimologis kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu psyche yang artinya sukma, jiwa, roh, dan logos yang artinya ilmu atau studi. Ilmu psikologi secara harfiah didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniyah yang keberadaannya tergantung pada hidup jasmaniah dan menimbulkan perbuatan badaniah (organik behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian ( personality ) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai baru, dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses dalam menghadapi kontradiksi-kontradiksi dalam hidup. Misalnya, insting, refleks, nafsu, dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.
Sedangkan jiwa adalah daya hidup rohaniyah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi semua perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.
Menurut Aristoteles, jiwa disebut anima yang terbagi dalam tiga macam jenis, yaitu :
1.anima vegetativa, yaitu anima yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk makan, minum, dan berkembang biak.
2.anima sensitiva, yaitu anima yang terdapat dalam hewan. Anima ini memiliki kemampuan seperti anima vegetativa juga kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, mengingat dan merasakan.
3.anima intelektiva, anima yang terdapat dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan seperti anima sensitiva juga mempunyai kemampuan berpikir dan berkemauan untuk melakukan sesuatu yang dipikirkan tersebut.
Setelah Psikologi berkembang luas dan dituntut mempunyai ciri-ciri sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, maka “jiwa” dipandang terlalu abstrak. Ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dicatat, dan diukur. Hal ini mengakibatkan perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat, dan diukur. Dengan demikian, psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut, yakni berupa tingkah laku dan proses-prosesnya. Perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebabnya tidak dapat diamati langsung.
2.Perilaku mengenal berbagai tingkatan. Ada perilaku yang sederhana seperti perilaku binatang satu sel, dan ada perilaku yang kompleks seperti perilaku sosial manusia.
3.Perilaku bervariasi menurut jenis-jenis tertentu yang bisa diklasifikasikan. Klasifikasi yang umum dikenal adalah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4.Perilaku bisa disadari dan tidak disadari. Walaupun sebagian besar perilaku sehari-hari kita sadari, tetapi terkadang kita hanya menyadari mengapa kita berprilaku seperti itu.
Jadi, ilmu psikologi didefinisikan sebagai studi tentang orang, studi tentang pikiran atau akal, dan studi tentang proses mental, motivasi, dan perilaku p
Minggu, 13 Maret 2011
Sejarah Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
E. Sejarah Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
Berbicara tentang Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Psikologi berdiri pada tahun 2004 dan masih berbentuk Program Study di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Baru pada tahun 2005, Program Study Psikologi dirubah menjadi Jurusan Psikologi. Pada awal terbentuknya jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Dr. A. Juntika Nurihsan, M. Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si sebagai sekretaris.
Dr. A. Juntika Nurihsan, M.Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si berkolaborasi dalam mengantarkan Psikologi yang berkehendak untuk memiliki kepekaan dan tanggap terhadap kemajuan ilmu psikologi, dan mampu memberikan sumbangan dalam mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia. Kini jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Drs. MIF Baihaqi, M. Si dan Dra. Titin Kartini, M. Si sebagai sekretaris. Mereka berdua dilantik pada tanggal 20 Agustus 2007.
Berikut ini adalah Visi dan Misi serta harapan Jurusan Psikologi UPI, yaitu:
1. Visi
Menjadikan jurusan psikologi sebagai pusat keunggulan bagi pelayanan pendidikan psikologi, pengembangan ilmu, dan pelayanan psikologis bagi masyarakat.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pendidikan Psikologi yang berorientasi menunjang perilaku kritis dan tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan Psikologi.
b. Membentuk sarjana psikologi yang profesional, kompeten, dengan menunjang nilai-nilai ilmiah pengetahuan dasar Psikologi.
c. Menghasilkan temuan ilmiah Psikologi yang berorientasi pada pengembangan ilmu Psikologi, dan menghasilkan Publikasi ilmiah cabang-cabang ilmu Psikologi.
d. Mengembangkan pusat-pusat kajian Psikologi yang berorientasi untuk melayani kesejahteraan masyarakat secara komperhensif.
e. Mengembangkan pusat data elektronik tentang perkembangan penelitian psikologi
f. Mengembangkan Pusat Pengembangan Tes Psikologi yang aplikatif dengan kebutuhan masyarakat luas.
Daftar Pustaka : Handbook BEM KEMA Psychology UPI
Berbicara tentang Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Psikologi berdiri pada tahun 2004 dan masih berbentuk Program Study di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Baru pada tahun 2005, Program Study Psikologi dirubah menjadi Jurusan Psikologi. Pada awal terbentuknya jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Dr. A. Juntika Nurihsan, M. Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si sebagai sekretaris.
Dr. A. Juntika Nurihsan, M.Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si berkolaborasi dalam mengantarkan Psikologi yang berkehendak untuk memiliki kepekaan dan tanggap terhadap kemajuan ilmu psikologi, dan mampu memberikan sumbangan dalam mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia. Kini jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Drs. MIF Baihaqi, M. Si dan Dra. Titin Kartini, M. Si sebagai sekretaris. Mereka berdua dilantik pada tanggal 20 Agustus 2007.
Berikut ini adalah Visi dan Misi serta harapan Jurusan Psikologi UPI, yaitu:
1. Visi
Menjadikan jurusan psikologi sebagai pusat keunggulan bagi pelayanan pendidikan psikologi, pengembangan ilmu, dan pelayanan psikologis bagi masyarakat.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pendidikan Psikologi yang berorientasi menunjang perilaku kritis dan tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan Psikologi.
b. Membentuk sarjana psikologi yang profesional, kompeten, dengan menunjang nilai-nilai ilmiah pengetahuan dasar Psikologi.
c. Menghasilkan temuan ilmiah Psikologi yang berorientasi pada pengembangan ilmu Psikologi, dan menghasilkan Publikasi ilmiah cabang-cabang ilmu Psikologi.
d. Mengembangkan pusat-pusat kajian Psikologi yang berorientasi untuk melayani kesejahteraan masyarakat secara komperhensif.
e. Mengembangkan pusat data elektronik tentang perkembangan penelitian psikologi
f. Mengembangkan Pusat Pengembangan Tes Psikologi yang aplikatif dengan kebutuhan masyarakat luas.
Daftar Pustaka : Handbook BEM KEMA Psychology UPI
Langganan:
Postingan (Atom)