Kamis, 31 Maret 2011

Sejarah Ilmu Psikologi

B. Sejarah Ilmu Psikologi

Sejarah ilmu psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual yang terjadi di Eropa dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Amerika. Berdasarkan hal itu, bagian sejarah psikologi dibagi dalam beberapa periode beserta tokoh-tokohnya, yaitu:

________________________________________ ________________________________________

Sejarah ilmu psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal selama ini sebagian besar berpusat dari perkembangan awal sejarah Eropa yang terjadi dari masa Yunani Kuno dan masa Romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.

Pendekatan dan orientasi ilmu dalam dunia psikologi berawal dari tradisi filsafat pada masa Yunani Kuno, yaitu masa transisi dari pola pikir animisime ke natural science, yaitu pengetahuan yang bersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.

Sepanjang masa kekaisaran Romawi, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya atau alam ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan yang terjadi diantara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri.

Masa Renaisans adalah peralihan masa dimana pengetahuan yang bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang. Munculnya berbagai diskusi tentang pengetahuan yang menyebabkan perkembangan ilmu-ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Hal ini berdampak pada kajian ilmu psikologi sehingga ilmu psikologi ingin menjadi kajian yang ilmiah dan empiris.

Pasca Renaisans, psikologi menjadi bagian dari ilmu faal yang muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimana pada fase ini mulai terdapat jawaban yang empiris dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap sekali muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)? Bagaimana bentuk konkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan antara body dan soul? Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, yang meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris dari soul (jiwa) yang juga sebelumnya jiwa tersebut dianggap sangat abstrak.

Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, maka konteks intelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima ilmu psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal sekaligus terlepas dari ilmu induknya, yaitu filsafat dan kedokteran.

Tanah kelahiran ilmu psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yang memiliki misi membentuk manusia yang berkualitas dan penyedia tenaga kerja yang profesional. Wilhelm Wundt adalah orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan Wundt seorang doktor yang tertarik dalam bidang fisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masuk dalam ranah empiris dan ilmiah serta bisa berdiri sebagai ilmu yang mandiri.

Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembang dengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut ini adalah perkembangan kajian ilmu psikologi, yaitu

1. Jerman
a. Psikologi Strukturalisme atau psikologi Eksperimen yang menekankan elemen mental, yaitu bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
b. Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan perlakuan demikian, maka makna dari jiwa itu sendiri akan berubah sebab bentuk kesatuannya juga akan hilang. Psikologi Gestalt menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun masih tetap empiris
c. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti Gestalt dan Strukturalisme, Psikoanalisa berkembang bukan dari riset akademisi, tetapi berdasarkan pengalaman praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.

2. Amerika
a. Psikologi Fungsionalisme menekanan pada fungsi mental tetapi bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis) saja
b. Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
c. Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia. Psikologi Humanistik disebut juga sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.

Pengertian Psikologi

A. Pengertian Psikologi

Secara etimologis kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu psyche yang artinya sukma, jiwa, roh, dan logos yang artinya ilmu atau studi. Ilmu psikologi secara harfiah didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniyah yang keberadaannya tergantung pada hidup jasmaniah dan menimbulkan perbuatan badaniah (organik behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian ( personality ) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai baru, dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses dalam menghadapi kontradiksi-kontradiksi dalam hidup. Misalnya, insting, refleks, nafsu, dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.

Sedangkan jiwa adalah daya hidup rohaniyah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi semua perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.

Menurut Aristoteles, jiwa disebut anima yang terbagi dalam tiga macam jenis, yaitu :
1.anima vegetativa, yaitu anima yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk makan, minum, dan berkembang biak.
2.anima sensitiva, yaitu anima yang terdapat dalam hewan. Anima ini memiliki kemampuan seperti anima vegetativa juga kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, mengingat dan merasakan.
3.anima intelektiva, anima yang terdapat dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan seperti anima sensitiva juga mempunyai kemampuan berpikir dan berkemauan untuk melakukan sesuatu yang dipikirkan tersebut.

Setelah Psikologi berkembang luas dan dituntut mempunyai ciri-ciri sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, maka “jiwa” dipandang terlalu abstrak. Ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dicatat, dan diukur. Hal ini mengakibatkan perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat, dan diukur. Dengan demikian, psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut, yakni berupa tingkah laku dan proses-prosesnya. Perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1.Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebabnya tidak dapat diamati langsung.
2.Perilaku mengenal berbagai tingkatan. Ada perilaku yang sederhana seperti perilaku binatang satu sel, dan ada perilaku yang kompleks seperti perilaku sosial manusia.
3.Perilaku bervariasi menurut jenis-jenis tertentu yang bisa diklasifikasikan. Klasifikasi yang umum dikenal adalah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4.Perilaku bisa disadari dan tidak disadari. Walaupun sebagian besar perilaku sehari-hari kita sadari, tetapi terkadang kita hanya menyadari mengapa kita berprilaku seperti itu.

Jadi, ilmu psikologi didefinisikan sebagai studi tentang orang, studi tentang pikiran atau akal, dan studi tentang proses mental, motivasi, dan perilaku p

Minggu, 13 Maret 2011

Sejarah Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

E. Sejarah Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
Berbicara tentang Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Psikologi berdiri pada tahun 2004 dan masih berbentuk Program Study di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Baru pada tahun 2005, Program Study Psikologi dirubah menjadi Jurusan Psikologi. Pada awal terbentuknya jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Dr. A. Juntika Nurihsan, M. Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si sebagai sekretaris.
Dr. A. Juntika Nurihsan, M.Pd., dan Drs. MIF Baihaqi, M. Si berkolaborasi dalam mengantarkan Psikologi yang berkehendak untuk memiliki kepekaan dan tanggap terhadap kemajuan ilmu psikologi, dan mampu memberikan sumbangan dalam mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia. Kini jurusan Psikologi UPI diketuai oleh Drs. MIF Baihaqi, M. Si dan Dra. Titin Kartini, M. Si sebagai sekretaris. Mereka berdua dilantik pada tanggal 20 Agustus 2007.
Berikut ini adalah Visi dan Misi serta harapan Jurusan Psikologi UPI, yaitu:
1. Visi
Menjadikan jurusan psikologi sebagai pusat keunggulan bagi pelayanan pendidikan psikologi, pengembangan ilmu, dan pelayanan psikologis bagi masyarakat.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pendidikan Psikologi yang berorientasi menunjang perilaku kritis dan tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan Psikologi.
b. Membentuk sarjana psikologi yang profesional, kompeten, dengan menunjang nilai-nilai ilmiah pengetahuan dasar Psikologi.
c. Menghasilkan temuan ilmiah Psikologi yang berorientasi pada pengembangan ilmu Psikologi, dan menghasilkan Publikasi ilmiah cabang-cabang ilmu Psikologi.
d. Mengembangkan pusat-pusat kajian Psikologi yang berorientasi untuk melayani kesejahteraan masyarakat secara komperhensif.
e. Mengembangkan pusat data elektronik tentang perkembangan penelitian psikologi
f. Mengembangkan Pusat Pengembangan Tes Psikologi yang aplikatif dengan kebutuhan masyarakat luas.

Daftar Pustaka : Handbook BEM KEMA Psychology UPI