Kamis, 07 April 2011

Perkembangan Psikologi Berdasarkan Waktu

1.Psikologi sebagai bagian Ilmu Filsafat

a.Zaman Yunani

Psikologi sebagai bagian dari ilmu filsafat pada zaman Yunani Kuno ini dibagi menjadi dua masa, yaitu masa Hellenic Periode dan masa Yunani Kuno.
Pada masa Hellenic Periode, pendekatan dan orientasi filsafat masa Yunani ini terarah pada eksplorasi alam, pengamatan empiris yang ditandai dengan kemajuan bidang astronomi dan matematika, berimbas dengan meletakkan dasar ciri natural science pada psikologi, yaitu objektif, eksperimentasi, dan observasi kegiatan nyata untuk organisme hidup. Pertanyaan utama yang selalu berulang:

Mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan?
Mengapa kita memiliki suasana hati?
Mengapa kita tampaknya tahu apa yang kita ketahui?
Mengupayakan untuk menemukan penyebabnya.

Masa Yunani Kuno adalah masa transisi dari pola pikir animisme ke awal masa natural science. Pada masa ini penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Pada masa Yunani Kuno ini, ada lima orientasi untuk mengetahui apa itu jiwa. 5 orientasi yaitu: Naturalistic, Biological, Mathematical, Eclectic, dan Humanistic.

1)Naturalistic

Adanya elemen-elemen dasar sebagai penentu dari kehidupan. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Tokohnya yaitu:
a)Thales yang menjelaskan segala sesuatu berasal dari air
b)Anaximander berkata segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu
c)Anaximenes menjelaskan segala sesuatu berasal dari udara.

2)Biologic

Memisahkan proses-proses yang terjadi pada manusia dengan proses-proses yang
terjadi pada mahluk lain di alam. Tokohnya adalah Hippocrates, Alcmeon, Empedocles.

3)Mathematical

Pendekatan yang lebih jauh dari dasar dunia fisik yang mengarahkan pada hal-hal yang logis tapi masih bersifat abstrak. Hal itu merupakan bekal bagi kekuatan reason.

4)Eclectic (berwawasan luas)

Menentang ide adanya suatu prinsip dasar dan kebenaran umum. Menekankan pada informasi sensoris, operasional, dan praktis. Sikap ilmuwan harus skeptic. Tokohnya yaitu the sophists, yaitu yang merupakan golongan orang yang pandai dalam berpidato.

5)Humanistic

Fokus utama dari pandangan ini yaitu rasionalitas dan intensionalitas. Ratio adalah penentu kehidupan manusia dan segala ko’nsekuensinya. Tokoh utamanya yaitu Socrates sedangkan tokoh penerusnya yaitu Plato dan Aristoteles.

Adanya orientasi untuk mengetahui tentang jiwa pada zaman Yunani Kuno ini lalu akan dijelaskan lebih lengkap lagi yaitu sebagai berikut ini.

1)Pandangan Monoisme

Sebelum tahun 1879, ilmu psikologi masih dianggap sebagai bagian dari filsafat. Pada mulanya ahli-ahli filsafat dari zaman Yunani Kuno-lah yang mulai memikirkan gejala-gejala kejiwaan. Saat itu belum ada pembuktian secara empiris atau ilmiah. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi. Mitologi adalah kumpulan legenda Yunani Kuno tentang dewa-dewi Yunani Kuno serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan. Cara pendekatan seperti itu disebut sebagai cara pendekatan yang naturalistik. Di antara sarjana masa Yunani yang menggunakan pendekatan naturalistik adalah Thales (624-548 SM) yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat. Ia meyakini bahwa jiwa dan hal-hal supernatural lainnya tidak ada karena sesuatu yang ada harus dapat diterangkan dengan gejala alam (natural phenomenon). Thales pun percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari air. Menurut Thales jiwa tidak mungkin dari air, oleh karena itu maka jiwa pun dianggapnya tidak ada.

Tokoh lainnya adalah Anaximander (611-546 SM) yang mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu, sementara Anaximenes (abad 6 SM) mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari udara. Tokoh penting lainnya pada masa Yunani Kuno ini adalah Empedocles, Hippocrates, dan Democritus.

Empedocles (490-430 SM) mengatakan bahwa ada empat elemen besar yang berada dalam alam semesta. Ke empat elemen besar tersebut yaitu bumi atau tanah, udara, api, dan air. Manusia terdiri dari tulang, otot, dan usus yang merupakan unsur dari tanah, cairan tubuh merupakan unsur dari air, fungsi rasio dan mental yang merupakan unsur dari api, sedangkan pendukung dari elemen-elemen atau fungsi-fungsi dari hidup adalah udara.Berdasarkan pada pandangan Empedochles, lalu Hipocrates (460-375 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat empat cairan tubuh yang memiliki kesesuaian sifat dengan ke empat elemen-elemen dasar tersebut. Berdasarkan komposisi cairan dalam tubuh manusia, maka Hipocrates membagi manusia dalam empat golongan yang berbeda, yaitu:

1.Sanguine adalah tipe orang yang terlalu banyak darah dalam tubuhnya. Sanguine bersifat panas dan mempunyai temperamen penggembira.
2.Melancholic adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu hitam dalam tubuhnya. Melancholic bersifat basah dan mempunyai temperamen pemurung.
3.Choleric adalah tipe orang yang terlalu banyak sumsum atau empedu kuning dalam tubuhnya. Choleric bersifat kering dan mempunyai temperamen semangat.
4.Plegmatic adalah tipe orang yang terlalu banyak lendir dalam tubuhnya. Phlegmatic bersifat dingin dan mempunyai temperamen lamban.

Democritus (460-370 SM) berpendapat bahwa seluruh realitas yang ada di dunia ini terdiri dari partikel-partikel yang tidak dapat dibagi lagi yang oleh Einstein kemudian diberi nama atom. Cara berfikir Democritus mengikuti prinsip mekanistis. Beratus tahun sesudah Democritus wafat, prinsip tersebut masih diikuti oleh beberapa sarjana, antara lain I.P. Pavlov dan J.B. Watson yang sama-sama berpendapat bahwa atom dari jiwa adalah refleks-refleks.

Tokoh-tokoh Yunani kuno tersebut pada dasarnya menganggap bahwa jiwa adalah satu dengan badan. Jiwa dan badan merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan, berasal dari unsur yang sama dan tunduk pada hukum yang sama pula (pandangan monoisme)

2)Pandangan Dualisme

Selain pandangan monoisme, tumbuh pula pandangan-pandangan lain yang disebut dengan dualisme. Dualisme yaitu pandangan yang memisahkan jiwa dari badan, jiwa tidak sama dengan badan, dan masing-masing tunduk pada peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang terpisah. Tokoh-tokoh terkenal yang menganut pandangan dualisme antara lain: Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM).

Socrates (469-399 SM) berpandangan bahwa pada setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Masalah yang muncul adalah kebanyakan dari setiap manusia tidak menyadarinya. Oleh karena itu, perlu ada orang lain semacam bidan yang membantu melahirkan sang ‘ide’ dari dalam kalbu manusia. Socrates mengembangkan suatu metode tanya jawab untuk menggali jawaban-jawaban yang terpendam mengenai berbagai persoalan. Dengan metode tanya jawab yang disebut dengan Socratic Method itu akan timbul pengertian yang disebut Maieutics yaitu menarik keluar seperti yang dilakukan oleh profesi bidan. Maieutics ini kemudian dikembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1943 menjadi suatu teknik dalam psikoterapi yang biasa disebut Non Directive Techniques, yaitu suatu teknik yang digunakan oleh profesi psikolog atau psikoterapis untuk menggali persoalan-persoalan dalam diri klien sehingga ia menyadari sendiri persoalan-persoalannya tanpa terlalu diarahkan oleh psikolog atau psikoterapisnya. Socrates menekankan pada pentingnya pengertian tentang diri sendiri bagi setiap manusia sehingga menurutnya adalah suatu kewajiban bagi setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal di luar dirinya. Semboyan dari Socrates yang terkenal adalah belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia itu sendiri.

Plato (427-347 SM) adalah murid dan pengikut setia dari Socrates dan dianggap sebagai penganut dualisme yang sebenar-benarnya. Plato mengatakan bahwa dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Pada orang dewasa dan intelektual, mereka dapat membedakan antara mana jiwa dan mana badan. Tetapi pada anak-anak, jiwa masih bercampur dengan badan, belum bisa memisahkan ide dari benda-benda yang kongkrit. Jiwa yang berisi ide-ide ini diberi nama Psyche. Plato meyakini bahwa setiap orang telah ditetapkan status dan kedudukannya di dalam masyarakat sejak orang lahir, yaitu apakah ia seorang filsuf, prajurit, atau pekerja.

Plato percaya bahwa tiap orang dilahirkan dengan kekhasan tersendiri. Jadi tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan demikian, selain dianggap sebagai penganut dalam paham Determinisme atau Nativisme, ia pun dianggap sebagai tokoh pemula dari paham individual differences. Dalam perkembangan ilmu psikologi selanjutnya, paham individual differences ini akan membawa para sarjana ke arah penemuan alat-alat pemeriksaan psikologi atau psikotes. Plato juga dianggap sebagai seorang yang rasionalis dan percaya bahwa segala sesuatu berasal dari ide-ide yang dihasilkan oleh rasio.

Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati sesuatu wujud tertentu (matter). Wujud ini pada hakikatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Tuhanlah satu-satunya yang tanpa wujud dan hanya berupa form saja. Aristoteles sering disebut sebagai Bapak Psikologi Empiris karena menurutnya segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu wujud tertentu. Wujud tertentu-lah sebagai sumber utama dari suatu pengetahuan. Pandangan dan teori-teori dari Aristoteles tentang psikologi dapat dilihat dalam bukunya yang terkenal yang berjudul De Anima, yang sesungguhnya merupakan buku tentang ilmu hewan komparatif dan Biologi. Dalam buku itu, Aristoteles mengatakan bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai dorongan untuk tumbuh dan menjadi sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah terkandung dalam benda itu sendiri. Ia membedakan antara hule dan morphe. Hule (Noes Photeticos) adalah yang terbentuk sedangkan Morphe (Noes Poeticos) adalah yang membentuk.
Benda dalam alam tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi menjadi atau diperkembangkan menjadi sesuatu. Sebelum benda itu terwujud, benda itu berupa suatu kemungkinan. Aristoteles membedakan tiga macam form, yaitu Plant, Animal, dan Rasional. Fungsi dari setiap form, yaitu Plant yang mengontrol fungsi-fungsi vegetative, Animal dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti: mengingat, mengharap, dan persepsi sedangkan Rasional memungkinkan manusia malakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsep-konsep.
Khusus pada diri manusia, dorongan untuk tumbuh ini berbentuk dorongan untuk merealisasikan diri (self realization) yang disebut entelechi. Menurut Aristoteles fungsi dari jiwa dibagi dua, yaitu kemampuan untuk mengenal dan kemampuan untuk berkehendak. Pandangan ini dikenal sebagai dichotomi. Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa manusia terdiri dari dua bagian, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Berabad-abad setelah zaman Yunani Kuno, Psikologi masih merupakan bagian dari ilmu Filsafat.

1 komentar: